‘jajan’ 120rb nawar jadi 110rb di stasiun..

jajan apa hayo.. kali ini jajan Ilmu..

Awalnya iseng liat2 majalah yg di jajain kaki lima di stasiun, smbil nunggu kereta yang bakal bawa gw pulang ke bekasi. Gw pelototin tuh majalah2 (mumpung masi geratis liat sampul doank mah) mulai dari koran pulsa, majalah chic, FIT, b-girl, gadis, reader guides dll. Dari majalah remaja, majalah dewasa (ups.. untuk wanita karir maksude), smpe majalah ibu dan anak.

Eh.. tiba2 mata gw tertuju pada sebuah majalah National Geographic – Edisi Koleksi -Traveler 55 Pendakian Terindah.. (wooow!!) yg ada di otak gw adalah ‘pasti tuh isinya cerita tentang perjalanan menuju puncak gunung yg ada di indonesia’. haru biru :tears: , sampulny gambar sebuah gunung biru dan mengeluarkan asap. Raga mungkin ga disana, tpi jiwa gw merasa rindu dan butuh menjelajah ke sana (hahHa lebay) gw sambit lah tuh buku. plus satu lagi buku yg ‘ehem’ menggoda National Geographic -Edisi Special- Detak Bumi(bumi kita kini 2010), yg sekilas liat dari covernya sie ttg perkembangan bumi.. National Gheographic..

humm.. klo ga mahal bukan national Geographic namanya.. Yg edisi koleksi “55 pendakian terindah” harganya 45rb, yang ttg bumi 75rb. total pengeluaran ‘jajan’ di kereta 120rb (minta korting smpe melas dapet 110rb) mahal?!.. memang.. boros?!! humm enggak.. gw rasa gw butuh buku ini.. buku adalah jendela dunia kawan (ngeles hahahahay..)

ps : terkagum- kagum liat photography di dalem majalah national geographic..salut buat para photographer yg mendedikasikan dirinya buat capture gambar merangkum keindahan ciptaanNya brserta ‘rasa’ dengan sebuah kamera. ^^

nb : (udah ada ps tambah nb ahHha). nemu kata2 bagus dalem buku. Ngerasa perlu di masukin ke post-an ini
Ada pertanyaan remeh yang sering ditanyakan pada para pendaki gunung : mengapa harus mendaki susah payah sampai puncak bila nantinya turun lagi? yang bertanya mungkin perlu mengkaji filosofi hidupnya sendiri. Mendaki gunung dan turun lagi itu mencerminkan perjalanan umum manusia : kita lahir, mencapai puncak usia dan turun ke haribaan ilahi.

Mendaki gunung menjadi sejenis simulasi kehidupan ketika kita berjuang bukan mengatasi tingginya pendakian atau curamnya tebing, melainkan mengatasi diri kita sendiri. Saat itulah, pada titik- titik ekstrim kelelahan, kita tau batas keberadaan kita di dunia. Saat turun dengan selamat, kita membawa diri yang baru, karena telah menemukannya kembali saat tiba di puncak – TANTYO BANGGUN.

permisi.. mau sampulin majalah nya ini pake sampul pelastik dulu.. trus mo lanjutin tidur sambil baca – bacaan.. eh.. baca sambil tidur – tiduran.. :i smile u pull:

About ranselbutut

Si Ransel Butut punya Mie, cw manis sedikit gila yg dooyan jalan - jalan ^^ Si Ransel Isi nyaa lengkap : * 'Cam Dic', brtugas capture gambar perjalanan * 'Note Perjalanan' , Summary dari Perjalanan - Info akomodasi dll * 'Buku Saku', suutt..its all about in Mie Minds Enjoy ransel butut day life..
This entry was posted in cerita aja... Bookmark the permalink.

5 Responses to ‘jajan’ 120rb nawar jadi 110rb di stasiun..

  1. adiyasan says:

    jajannya mahal amat mi. tp woke lah buat gambar2 eksklusif dari national geographic.

  2. ditunggu prikitiwnya..😀

  3. HP says:

    Coba buka Gigapedia.com, banyak buku-buku gratis di sana dalam format PDF.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s